30 November 2022

Presiden Rusia, Vladimir Putin. Foto: CNN

Merespon rencana Ukraina melakukan serangan balasan, Presiden Rusia Vladimir Putin hanya tersenyum. Perang akan semakin berbahaya.

Moscow – Presiden Rusia Vladimir Putin merespons rencana Ukraina meluncurkan serangan balasan dengan senyuman. Dia mewanti-wanti Rusia akan merespons lebih keras dengan perang yang lebih berbahaya jika pasukannya terus mendapatkan tekanan.

Dilansir dari kantor berita Reuters, Sabtu (17/9/2022), berbicara setelah KTT Organisasi Kerjasama Shanghai di kota Samarkand, Uzbekistan, Putin menyebut invasi itu sebagai langkah yang diperlukan untuk mencegah apa yang dia katakan sebagai rencana Barat untuk memecah belah Rusia.

Moskow, katanya, juga tidak terburu-buru di Ukraina. Dia menegaskan tujuannya menginvasi Ukraina juga tetap tidak berubah.

“Otoritas Kyiv mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan dan sedang melakukan operasi serangan balasan yang aktif. Mari kita lihat bagaimana perkembangannya, bagaimana akhirnya,” kata Putin sambil tersenyum.

Itu adalah komentar publik pertama Putin tentang kekalahan pasukan Rusia di wilayah Kharkiv, Ukraina seminggu yang lalu, yang telah memicu kritik publik yang luar biasa keras dari para komentator militer Rusia.

Merespons kekalahan di Kharkiv, Rusia lalu menyerang infrastruktur Ukraina sebagai respons, termasuk bendungan reservoir dan pasokan listrik. Putin bahkan mengingatkan bahwa serangan itu bisa menjadi lebih buruk.

“Baru-baru ini, angkatan bersenjata Rusia telah melakukan beberapa serangan sensitif. Anggap saja itu adalah peringatan. Jika situasinya terus berkembang seperti ini, maka responsnya akan lebih serius,” tegas Putin.

Ditanya apakah apa yang dia sebut “operasi militer khusus” perlu dikoreksi, Putin berkata: “Rencana itu tidak dapat disesuaikan.”

“Tujuan utamanya adalah pembebasan seluruh wilayah Donbas,” cetus Putin.

Donbas sendiri terdiri dari dua provinsi yang sebagian besar penduduknya berbahasa Rusia di Ukraina timur – Luhansk. Wilayah itu sekarang sepenuhnya berada di bawah kendali Rusia dan pasukan separatis yang didukung Rusia, dan Donetsk, yang sebagian mereka kendalikan.

Namun, Rusia sekarang menempati sekitar seperlima dari Ukraina secara keseluruhan, termasuk sebagian besar provinsi Zaporizhzhia dan Kherson di Ukraina selatan, selain Krimea, yang dicaploknya pada tahun 2014 dan dianggap sebagai bagian dari Rusia.

Putin Sebetulnya Ingin Akhiri Perang

Putin ternyata berkeinginan agar perang segera diakhiri sesegera mungkin. Pernyataan itu disampaikan untuk menjawab kekhawatiran Perdana Menteri India Narendra Modi terhadap invasi Rusia ke Ukraina.

“Saya tahu posisi anda dalam konflik di Ukraina, kekhawatiran anda‚Ķ kami akan melakukan yang terbaik untuk mengakhiri (perang) ini sesegera mungkin,” kata Putin kepada Modi di sela-sela KTT Regional di Uzbekistan, dilansir AFP, Jumat (16/9).

Putin menyebut Ukraina menolak proses negosiasi dan memilih cara militer untuk mencapai tujuan.

“Sayangnya, hanya pihak lawan, pimpinan Ukraina, yang mengumumkan penolakannya terhadap proses negosiasi, dan menyatakan bahwa mereka ingin mencapai tujuannya dengan cara militer, di medan perang,” kata Putin.