30 November 2022

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. foto: Dok/Biro Humas Setkab

Hacker Bjorka yang menghebohkan itu menyebarkan data bahwa Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan belum melakukan vaksinasi Covid-19 booster. Benarkah?

Surabaya – Santer diberitakan bahwa data pribadi, baik NIK maupun KK para menteri hingga ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) bocor di media sosial. Data yang disebut-sebut berasal dari akun hacker Bjorka menyebutkan bahwa sejumlah menteri belum melakukan vaksinasi COVID-19 booster atau vaksin ketiga. Salah satunya adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Tak hanya luhut, data itu juga menyiratkan ada sejumlah menteri yang belum melakukan vaksinasi COVID-19 booster. Beberapa menteri yang dimaksud antara lain Menteri BUMN Erick Thohir hingga Menteri Kominfo Johnny G Plate. Bahkan, Ketua DPR RI Puan Maharani juga disebut belum melakukan vaksinasi booster. Seperti apa faktanya?

Luhut Sudah Vaksin 4 Kali

Juru bicara Kemenko Marinves Jodi Mahardi menegaskan bahwa Luhut sudah divaksinasi COVID-19 booster, bahkan hingga empat kali disuntik.

“Pak Luhut empat kali vaksin termasuk dengan vaksin Nusantara,” kata Jodi dilansir dari detikHealth, Rabu, (14/9/2022).

Begitu juga setelah ditelusuri lebih lanjut, status warna di aplikasi PeduliLindungi Luhut telah berwarna hijau, artinya tak teridentifikasi positif COVID-19. Ia terakhir melakukan tes COVID-19 pada 10 September 2022 berdasarkan keterangan PeduliLindungi seperti dikutip detikNews, Senin (12/9).

Sementara yang lainnya sampai saat ini belum ada keterangan lebih lanjut mengenai status vaksinasi mereka.

Belum Tentu Akurat

Juru bicara Kementerian Kesehatan RI dr Mohammad Syahril mengatakan bahwa data yang disebarkan Bjorka belum tentu benar dan akurat. Pihaknya belum bisa berkomentar banyak soal data vaksinasi yang dibocorkan Bjorka.

“Kami masih menunggu penjelasan dari Kominfo, ya, dengan cyber-nya dengan Polri maupun BIN. Kita tunggu dulu. Nanti apa yang ditanyakan wartawan itu kami belum bisa komen karena data yang dibuat (Bjorka) iya kalau betul, kalau nggak? Makanya saya enggak komentar,” ujar Syahril, Selasa (13/9).

Data Lama yang Belum Diperbarui

Dihubungi terpisah, epidemiolog Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia juga ikut merespons viral dugaan data para menteri hingga DPR bocor. Menurutnya, data itu merupakan data lama yang belum diperbarui statusnya.

“Bocoran data tentang riwayat vaksinasi para pejabat menunjukkan data tersebut, lama yang belum terupdate. Ayo segera di-booster siapapun Anda, termasuk tokoh yang dianggap berpengaruh,” tutur Pandu dalam akun Twitter pribadinya, dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan, Selasa (13/9).

“Agar Indonesia bisa mengakhiri pandemi segera. Semoga cukup booster satu kali saja, tidak perlu tambahan lagi,” sambungnya.