1 Desember 2022

Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo. Foto: Ist

Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan Indonesia masih mengimpor kedelai hingga daging karena lebih murah dan berkualitas.

Kota Batu – Sejumlah komoditas pangan diakui Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo masih tergantung kepada negara lain. Alhasil dia pun menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia karena memang permintaan pasar Indonesia tak mencukupi dari jumlah produksi yang dihasilkan.

“Maafkan saya, tempe, tahu, kecap itu masih impor, karena harganya lebih murah, kualitasnya lebih banyak daripada bahan bakunya di sini. Kedelai 98 persen kita masih impor, maafkan saya,” ucap Syahrul Yasin Limpo saat membuka Rembug Utama Kelompok KTNA Nasional di Kota Batu, Jawa Timur, Jumat (16/9/2022).

Selain kedelai, beberapa komoditas pangan seperti susu dan daging belum bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri sendiri. Tetapi untuk komoditas pangan yang bisa disubstitusi untuk tidak impor, tentu hal itu akan dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan).

“Substitusi impor sepanjang bisa dibuat di dalam negeri, kita siap buat. Kalau lagi bagus-bagusnya panen, jangan kau impor yang lebih murah itu kata Pak Presiden. Saya yakin Pak Presiden konsisten,” tutur menteri berusia 67 tahun ini.

Dia pun meminta para petani dan nelayan yang tergabung dalam Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) untuk sama-sama bersinergi mengupayakan kedaulatan pangan nasional. Caranya dengan berjuang mengembangkan kebutuhan – kebutuhan pangan yang selama ini masih mengandalkan impor dari negara lain.

“Jajaran KTNA menjadi pejuang untuk membela bangsa dan negara. Kalau terbiasa dengan tantangan. Kita jaga ketahanan pangan agar rakyat tetap tenang saat menghadapi situasi darurat,” tuturnya.

Sebagai informasi, Rembug Utama Kelompok KTNA Nasional berlangsung di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani Kota Batu, pada Jumat 16 September 2022. Mentan Syahrul dan jajaran Kementan menghadiri yang diikuti 2.000 petani dan nelayan dari seluruh Indonesia. Rembug Utama tersebut diharapkan bisa menghasilkan rumusan rekomendasi yang bisa dipergunakan pemerintah untuk membangun langkah penguatan produksi pangan di dalam negeri.