30 November 2022
Sumpah Pemuda 1928 tidak diragukan lagi merupakan bagian sejarah penting negeri ini

Kupang – Sumpah Pemuda 1928 tidak diragukan lagi merupakan bagian sejarah penting negeri ini. Catatan yang ditorehkan adalah kebulatan para pemuda untuk cita-cita keindonesiaan dalam wujud bertanah air, berbangsa, dan menjunjung bahasa persatuan: Indonesia.

Tekad itu lahir dari kepekaan atas dinamika keberagaman masyarakat nusantara. Kesadaran pentingnya persatuan tersebut sebagai jawaban dalam mengakomodasikan realitas keberagaman. Pahitnya imbas dari politik devide et impera yang dijalankan para penjajah pada saat itu semakin menguatkan pemahaman akan urgensi persatuan.

Perjalanan sejarah keindonesiaan terjalin atas proses yang panjang. Bila dilihat ke belakang, terdapat pendirian Budi Utomo 1908 yang dimaknai sebagai awal kebangkitan nasional. Saat itu telah muncul kesadaran anak bangsa menjadi suatu bangsa. Para pemuda dari kaum terpelajar menjadi pelopornya.

Sejarah terus berlanjut diikuti dengan pergerakan perjuangan merebut kemerdekaan. Semua bersatu padu pada cita-cita bersama untuk lepas dari belenggu penjajahan dan berdiri sebagai sebuah negara bangsa.

Proses keindonesiaan berlanjut disertai dengan upaya melengkapi berbagai atribut serta sistem dalam bernegara. Bingkai NKRI dengan Pancasila sebagai Dasar Negara, UUD Negara RI Tahun 1945, dan sesanti “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi bagian pondasi yang ikut memperkokoh desain persatuan.

Dinamika keberagaman dengan catatan 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, dan 6 agama adalah kekayaan Indonesia sekaligus kebanggaan kita sebagai bangsa sampai dengan saat ini di era reformasi.

Keberagaman yang kita miliki sebagai bangsa, telah disebutkan, sebagai kekayaan sekaligus kebanggaan. Hanya saja, patut disadari bahwa persatuan bangsa bukanlah sesuatu yang sekali jadi. Persatuan dalam kerangka negara bangsa tidak statis, melainkan bersifat dinamis. Kondisi kehidupan nasional bisa naik dan turun.

Negara bangsa dengan tingkat heterogenitas sosial tinggi, rentan terjadinya perpecahan. Jika dipantik dengan issu kesenjangan ekonomi dan apa lagi isu SARA, ancaman atas integrasi bukanlah sesuatu yang dirasa mustahil. Kasus bubarnya Uni Soviet menjadi bukti. Dalam berita terkini, pecahan negara itu: Rusia dan Ukrania, kini larut dalam konflik bersenjata.

Benedict Anderson (1983) menyebutkan konsep komunitas terbayang sebuah bangsa yaitu kesediaan anggota menjadi bagian dari komunitas bersama. Kesediaan dimaksud menyangkut perspektif yang kondisinya fluktuatif.

Persepsi orang sesewaktu bisa berubah, tidak terkecuali juga dalam kehidupan berbangsa. Tergerusnya rasa nasionalisme bukanlah isapan jempol. Berbagai kasus konflik vertical maupun horizontal yang terjadi di berbagai belahan dunia maupun di tanah air menjadi bukti bisa menurunnya loyalitas warga negara terhadap Negara.

Menurunnya loyalitas warga negara bisa dipengaruhi berbagai stimulan. Kurangnya kinerja layanan aparatur pemerintah menjadi salah satu alasan. Lebih ribet jika perilaku pejabat kurang mencerminkan berpihak pada kondisi masyarakat.

Faktor subjektif dapat menjadi alasan tersendiri disebabkan pemegang otoritas atau pemimpin yang terpilih bukan dari kelompoknya. Lalu kehidupan ekonomi yang kurang beruntung menjadi alasan lainnya. Kurangnya kepercayaan kepada pemimpin plus menurunnya loyalitas kepada pemerintah dapat menjadi kendala kondisi kondusif.

Pada sisi yang lain, sesuai dinamika yang ada, terdapat kelompok-kelompok yang kurang bisa menerima realitas keberagaman. Kelompok ini sering disebut sebagai kelompok radikal berkedok agama.

Kelompok ini memiliki pandangan ideologis dalam pergerakan untuk mengubah tatanan negara bangsa Indonesia. Jalan kekerasan maupun secara lunak melalui media social menjadi sarana yang ditempuh.

Khususnya media social, sangat dekat dengan kehidupan kita terutama para generasi muda. Generasi muda rentan terhadap dampak negative dari media social.

Menurut hemat penulis, berbagai dinamika tersebut menjadi tantangan kontekstual atas persatuan keindonesiaan kita. Momentum peringatan “Sumpah Pemuda,” sangat relevan untuk memaknai kembali persatuan dengan membangun semangat untuk selalu mewujudkannya.

Sebagai bangsa mestinya kita dapat meneladani para pemuda melalui “Sumpah Pemuda” yang secara bulat dapat melihat persatuan adalah kunci eksistensi sebagai bangsa. Seiring dengan itu, dipahami bahwa ancaman terhadap integrasi adalah kontekstual dan menjadi musuh bersama.

Peran Semua Komponen Bangsa

Dari berbagai gambaran permasalahan yang sudah disebutkan, terlihat bahwa berbagai factor permasalahan terhadap persatuan bangsa pada dasarnya dekat dengan kegiatan-kegiatan di seputar kehidupan kita. Dari aparatur pemerintah sampai masyarakat umum dapat menjadi factor yang ikut berpengaruh.

Semua pihak terlibat untuk memainkan peran. Tentu saja peran yang dimaksudkan adalah partisipasi untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang dapat mengurangi rasa kohesivitas nasional dan sebaliknya terpanggil mendorong tumbuhnya rasa persatuan. Prosesnya diharapkan dapat berjenjang, dimulai dari komunitas terkecil seperti keluarga, kelompok, sampai dalam komunitas nasional.

Semua pihak sesuai kapasitasnya mestinya ikut berkontribusi guna mendorong kesadaran menjadi bagian dari komunitas terbayang seperti disebut Anderson. Mewujudkan persatuan tidak mudah. Prosesnya panjang dan dipengaruhi berbagai situasi kehidupan social sampai nasional.

Pemaknaan persatuan secara kontekstual antara lain dalam wujud peran aparatur pemerintah menjadi pengayom, pelayan, dan anutan. Masyarakat sendiri diharapkan ikut berpartisipasi untuk menciptakan kondisi kehidupan yang kondusif, seperti menghargai nilai-nilai keberagaman dan peduli kepada anggota keluarga agar memiliki loyalitas kepada negara sebagaimana negara kita saat ini yang sudah dibangun para “Founding Fathers”.