30 November 2022
kondisi perekonomian yang sulit memaksa produsen rokok putar otak. mengambil keputusan meluncurkan produk baru dengan harga yang murah.

Jakarta – Pandemi Covid-19 dan kondisi perekonomian yang sulit ternyata memaksa produsen rokok putar otak.
Sebagian besar, bahkan produsen rokok kakap, mengambil keputusan bisnis strategis. Kebanyakan dari produsen rokok meluncurkan produk baru dengan harga yang murah.

Langkah ini diambil dengan harapan, produk mereka laku di pasaran.

The big three yakni PT HM Sampoerna, PT Gudang Garam, dan PT Djarum memproduksi rokok murah atau meluncurkan ulang produk mereka dengan kemasan lebih sedikit.

Center for Indonesia Strategic Development Initiatives (CISDI) melaporkan 42% dari perokok persisten saat ini mengatakan akan mengurangi pengeluaran untuk merokok dan 24% dari mereka beralih ke rokok yang lebih murah.

Sejalan dengan temuan ini, riset Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) juga menemukan bahwa kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah masih melanjutkan untuk merokok saat pandemi meskipun kesulitan secara ekonomi dan cenderung untuk beralih ke rokok yang lebih murah.

Salah satu produk rokok murah yang diluncurkan HM Sampoerna adalah Marlboro Crafted Authentic.

Produk yang diluncurkan pada Maret 2022 ini dijual di bawah kisaran Rp 8.000-Rp 10.000 dengan isi 12 batang per pack.

Menanggapi fenomena tersebut, pengamat industri rokok Dimas Dwi Nugraha menjelaskan mahal dan murahnya harga rokok tentu saja sangat relatif bagi setiap orang.

Namun, jika dilihat dari bahan mentah, kemasan, dan faktor lain maka harga rokok murah untuk kelas Sigaret Kretek Mesin (SKM) adalah di bawah Rp 17.000-18.000 ribu per pack, kelas SPM di bawah kisaran Rp 25.000/pack, Sigaret Putih Tangan (SPT) di bawah Rp 10.000 per pack, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) di bawah Rp 15.000.

Penelusuran kami juga menunjukkan banyaknya rokok murah yang baru beredar setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

Sampoerna mengeluarkan rokok lama dengan jumlah yang sedikit, di antaranya adalah Marlboro Filter Black (untuk 12 batang harga Rp 20.600 per pack) dan Philip Morris Magnum 12 (Rp 18.300/pack).

Produk baru yang diluncurkan di antaranya Marlboro Crafted Authentic (Rp 8.000-10.000 per pack) dan Marlboro Advance (Rp 17.00-19.000/pack).

Djarum meluncurkan produk seperti Djarum Super Next dan Djarum Wave yang dibanderol Rp 16.000 untuk 12 batang. Selain itu, Djarum juga mengeluarkan varian Djarum 76 Madu Hitam (Rp 12.000-13.000 per pack).

Wismilak meluncurkan Wismilak Golden ARJA yang dibanderol dengan harga Rp 8.000-9.000 per pack dengan isi 12 batang.

Rokok murah dari produsen lainnya adalah Minak Djinggo Rempah dari PT Nojorono Tobacco International (harga Rp 10.000/pack), dan City Lite By Ares produksi PR Sejahtera (Rp 14.000-16.000 per pack).

Kansas American Blend (Rp 11.000-12.000 per pack), Aroma Mile (Mild) produksi Nojorono Group (Rp 15.000-16.000 per pack), dan Esse Bana Pop 12 batang produksi KT&G Group (Rp 21.000/pack).

Terdapat juga Camel Mild Intense Blue (Rp 20.000 per pack) dan Camel Mild Option Yellow Kretek (Rp 15.000-16.000 per pack) produksi PT. Karya Dibya Mahardhika dan Hero Casual Bold dari Hero Casual (Rp 13.000-16.000 per pack).

Selain yang beredar secara nasional, terdapat beberapa rokok yang peredarannya sangat kencang di daerah tertentu.

Sejumlah rokok yang penjualannya kencang di daerah tertentu dengan produk baru setelah 2020 di antaranya adalah Gudang Baru Premium (Rp 15.000 per pack), Mozza (Rp 11.000 per pack), dan Super 57 Madjoe (Rp14.000 per pack).