30 November 2022
Serangan Rusia di Ukraina masih terus terjadi. Terbaru, puluhan rudal disebut menyerang kota-kota di bekas sesama Uni Soviet tersebut, termasuk ibu kota Kyiv.

Jakarta – Serangan Rusia di Ukraina masih terus terjadi. Terbaru, puluhan rudal disebut menyerang kota-kota di bekas sesama Uni Soviet tersebut, termasuk ibu kota Kyiv.
Ini terjadi setelah pengumuman Rusia yang menarik diri dari perjanjian kesepakatan ekspor gandum dan biji-bijian di Laut Hitam akhir pekan kemarin. Padahal perjanjian yang dibuat Juli tersebut memungkinkan produk pertanian penting untuk diekspor dari beberapa pelabuhan Ukraina.

Rusia mengalami hal tersebut didasari serangan Ukraina ke militer di Laut Hitam. Berikut beberapa update terbaru perang Senin hingga Selasa (1/11/2022) ini:

Tembak 50 Rudal Lebih

Rusia dilaporkan menembak lebih dari 50 rural sehari ke Ukraina. Ini dilaporkan Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal.

“Rudal dan drone menghantam 10 wilayah, di mana 18 objek (fasilitas) rusak, sebagian besar terkait energi,” katanya di Telegram, dikutip CNBC International.

“Ratusan pemukiman di tujuh wilayah Ukraina terputus. Konsekuensinya bisa jauh lebih buruk,” tambahnya.

Tetapi berkat kerja heroik dan profesional Angkatan Pertahanan Udara, 44 dari lebih dari 50 rudal yang ditembakkan ke wilayah kami ditembak jatuh,” tegasnya.

Bukan hanya Kyiv, sejumlah kota-kota di Ukraina Timur dan Selatan juga menjadi sasaran. Dnipropetrovsk di tenggara Ukraina pun dilaporkan diserang dengan rudal Rusia pagi waktu setempat.

Kyiv Kritis Listrik dan Air

Serangan membabi-buta Rusia membuat Kyiv kekurangan listrik dan air. Beberapa pemukiman dilaporkan mengalami krisis Senin.

Serangan rudal pagi ini menghantam 18 fasilitas. Ini sebagian besar terkait dengan energi, membuat 80% penduduk Kyiv tidak memiliki air atau listrik.

Namun dalam update terbaru Senin malam, penyedia listrik Kyiv DTEK, Kyivski Elektromerezhi, mengatakan listrik dan air sekarang telah berangsur dipulihkan di ibu kota.

“Kami telah memulihkan pasokan listrik ke konsumen dan fasilitas utilitas air yang tidak memiliki aliran listrik karena serangan teroris Rusia terhadap fasilitas infrastruktur penting kota pada pagi hari tanggal 31 Oktober,” tulis sebuah posting dari halaman Facebook resmi DTEK.

Namun, mengikuti instruksi dari operator sistem transmisi listrik negara, Ukrenergo, pembatasan pasokan listrikakan tetap berlaku. Daya akan dikembalikan sepenuhnya setelah sistem stabil dan atas instruksi Ukrenergo, menurut penyedia.

Biden Ngamuk ke Zelensky

Presiden AS Joe Biden dilaporkan sempat berang ke Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Ini terjadi Juni lalu, kata beberapa orang yang dekat dengan masalah ini.

Hal itu bermula dari panggilan telepon, saat keduanya berbicara soal paket baru bantuan AS untuk militer Ukraina. Saat Biden baru memberi tahu bahwa dia baru saja memberi bantuan militer sebesar US$ 1 miliar lagi untuk Ukraina, Zelenky malah mendaftar semua bantuan tambahan yang dia butuhkan dan tidak dia dapatkan.

“Biden kehilangan kesabaran,” kata orang-orang yang akrab dengan panggilan itu, dikutip NBC.

“Orang-orang Amerika cukup murah hati, dan pemerintahannya serta militer AS bekerja keras untuk membantu Ukraina, tegas Biden kala itu, meninggikan suaranya. Zelensky seharusnya dapat menunjukkan sedikit lebih banyak rasa terima kasih,” katanya lagi.

Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional menolak mengomentari cerita tersebut. Seorang juru bicara Zelenskyy tidak menanggapi permintaan komentar.

AS Hubungi China

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berbicara dengan rekannya dari China tentang perang Rusia di Ukraina. Hal ini dikonfirmasi Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan.

“Blinken berbicara dengan Penasihat Negara Republik Rakyat China dan Menteri Luar Negeri Wang Yi,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price.

“Menteri itu mengangkat perang Rusia melawan Ukraina dan ancaman yang ditimbulkannya terhadap keamanan global dan stabilitas ekonomi,” tambahnya.

Washington sendiri telah berulang kali memperingatkan Beijing. Paman Sam meminta agar Tirai Bambu tidak memberikan bantuan keuangan ke Moskow untuk membantu Presiden Rusia Vladimir Putin menumpulkan sanksi global.

Jumlah Korban Baru Perang

PBB telah mengkonfirmasi 6.430 kematian warga sipil dan 9.865 cedera di Ukraina sejak Rusia menyerang 24 Februari.

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mengatakan jumlah korban tewas di Ukraina kemungkinan lebih tinggi karena konflik bersenjata dapat menunda laporan kematian.

Organisasi internasional itu mengatakan sebagian besar korban sipil yang tercatat disebabkan oleh penggunaan senjata peledak dengan area dampak yang luas. Termasuk penembakan dari artileri berat dan beberapa sistem peluncuran roket, serta rudal dan serangan udara.

Pengiriman Ekspor dari Ukraina

Meski di bawah tekanan Rusia, 12 kapal yang membawa gandum telah meninggalkan pelabuhan Ukraina kemarin. Hal ini terjadi di tengah panarikan Rusia dari perjanjian di Laut Hitam untuk membuka ekspor Ukraina.

“Rekor 354.500 ton biji-bijian diangkut dengan kapal yang meninggalkan pelabuhan Ukraina sebagai bagian dari kesepakatan biji-bijian Laut Hitam,” kata juru bicara militer wilayah Odessa.

Sementara itu, menanggapi keputusan Rusia untuk menghentikan partisipasi dalam kesepakatan itu, PBB, Turki dan Ukraina mencapai kesepakatan pada hari Minggu untuk membuka blokir 16 kapal gandum di perairan Negeri Sufi. Perjanjian ini menyelesaikan backlog inspeksi yang diberlakukan Rusia dan membantu mencegah kekhawatiran akan krisis pangan global.

“Delegasi PBB dan Turki menyediakan 10 tim inspeksi untuk memeriksa 40 kapal,” kata Oleksandr Kubrakov, Menteri Infrastruktur Ukraina.

“Delegasi Rusia mengetahui rencana inspeksi baru,” tambahnya.