30 November 2022
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat mengkaji usulan pemasangan jaring sampah di sungai di setiap kelurahan untuk mencegah sampah terbuang ke laut yang dapat mengganggu kebersihan kawasan pantai.

Mataram – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat mengkaji usulan pemasangan jaring sampah di sungai di setiap kelurahan untuk mencegah sampah terbuang ke laut yang dapat mengganggu kebersihan kawasan pantai.

“Usulan terhadap pemasangan jaring sampah di setiap kelurahan kita kaji dulu, terutama kaitan dengan manuver kendaraan alat pengangkut sampah bisa masuk atau tidak,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Miftahurrahman di Mataram, Kamis.

Pernyataan itu disampaikan menyikapi usulan dari Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi sebab selama ini permasalahan sampah di pesisir pantai menjadi salah satu hal yang cukup berat dalam penanganan kebersihan objek wisata pantai.

Sampah yang ada di pantai bukan dari sampah pengunjung, melainkan sampah yang sungai yang masuk ke laut, dan gelombang laut membawa sampah kembali ke pesisir sehingga memberikan kesan kotor di sepanjang objek wisata pantai, kendati sudah dibersihkan berkali-kali.

“Apa yang disampaikan Kadis Pariwisata itu memang benar, karena itu usulan pemasangan jaring di setiap kelurahan yang dilintasi sungai akan kita kaji termasuk posisi jaring yang pas,” kata Miftahurrahman.

Untuk saat ini, lanjutnya, pihaknya sudah memasang dua jaring sampah pertama di muara Pantai Loang Baloq atau bagian utara Kali Unus dan kedua di Sungai Jangkuk bawah Jembatan Ampenan untuk mencegah sampah dari kali terbuang ke laut sehingga dapat mengganggu kebersihan kawasan sekitar pantai.

Ia mengatakan, panjang jaring sampah yang dipasang di muara tersebut sekitar 20 meter, atau selebar Kali Unus yang bermuara di muara Pantai Loang Baloq.

Sementara untuk memastikan pengangkutan sampah yang terjaring, pihaknya, menyiapkan petugas khusus untuk mengontrol jaring sampah.

“Kalau volume sampah setiap hari penuh, kita angkut setiap hari. Untuk anggaran kita gunakan anggaran rutin swakelola,” katanya.

Begitu juga dengan jaring di Jembatan Ampenan yang keberadaan cukup efektif mengurangi volume sampah di sungai yang mengalir ke muara. Dalam sehari sampah yang terjaring sebanyak 3-4 dump truk.

Penanganan sampah di sungai dan saluran, akunya, merupakan pekerjaan yang cukup berat, sebab petugas bekerja dua kali yakni mengangkut sampah ke atas sungai atau saluran, barulah bisa diangkat ke dump truk.

“Karena itu, kita berharap kesadaran masyarakat mulai tumbuh dengan tidak lagi membuang sampah di sungai atau di saluran,” katanya.

Miftahurrahman mengatakan, dua jaring yang terpasang itu saat ini dibuka sementara karena terjadi peningkatan debit air sungai akibat hujan yang terjadi terus menerus.

“Jika kita biarkan, bisa memicu luapan air sebab yang terjaring bukan hanya sampah tapi kayu-kayu besar dari hulu yang dibawa air sehingga menghambar aliran dan memicu luapan air sungai,” katanya.